Perjalanan Religius Ustadz H. Gohan Matondang

Penginjil Jadi Ustadz (Bagian 2)

Jumat,07 Juli 2017 | 08:14:00
Penginjil Jadi Ustadz (Bagian 2)
Ket Foto : Ustadz H. Gohan Matondang S.PdI

Sidang Keluarga

Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya di malam pergantian tahun, 2005 ke 2006. Ada sebuah tradisi di keluarga besarnya, berkumpul bersama, duduk  bersila dengan membentuk lingkaran, satu  persatu anggota keluarga akan menyampaikan ucapan tahun baru kepada keluarga lainnya serta harapan harapan di tahun depan.

Setelah beberapa anggota keluarga mendapatkan kesempatan lebih dulu, sampailah pada giliran Gohan untuk memberikan ucapan selamat tahun baru, tak hanya ucapan selamat, kepada keluarga besar, berita penting diumumkanny di hadapan bapak, ibu, abang, adik dan keluarga besar lainnya.

Setelah tujuh bulan mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan berita yang teramat penting itu, tentang jati diri kini, identitas muslimnya tidak mungkin di tutupi selamanya, bagaimanapun harus disampaikan, mereka harus tahu dari mulutnya sendiri bukan dari orang lain.

“Setelah sampai giliranku, kusampaikan ucapan selamat tahun baru untuk semua keluarga, dan saat itu juga ku beritahukan bahwa saya sudah masuk Islam,” katanya

Mendengar kejujurannya, wajah wajah orang orang terkasih yang memenuhi ruang utama menjadi merah padam, tak tampak kegembiraan tahun baru seperti pergantian tahun di tahun tahun sebelumnya, rona marah dari bapak, abang dan paman paman terlihat jelas olehnya. Namun tidak menyurutkan niatnya untuk melanjutkan apa yang harus disampaikannya.

Berbeda keyakinan, tidak lagi bisa pergi ke gereja bersama sama, menurut Gohan bukan berarti dirinya telah meninggalkan keluarga besarnya, dirinya masih berharap dianggap sebagai anak, adik, kakak, dan keponakan, serta cucu dari keluarga besarnya.

“Saya sampaikan, walau saya Islam, saya masih Gohan yang dulu, tidak ada yang berubah selain agama saya, saya masih anak dari bapak dan ibu, masih saudar dari abang dan adik, masih keponakan dari paman paman dan tante tante dan cucu dari Opung, itu permintaan saya kepada keluarga besar waktu itu,” kenangnya lagi

Setelahnya, giliran giliran untuk menyampaikan ucapan dan ungkapan dari keluarga yang lain diberikan, seperti bapak dan paman paman, serta tante tante, satu persatu dari mereka memberi catatan dan wejangan kepada anak anak, keponakan dan anggota keluarga yang lebih muda. Namun catatan untuk si Gohan diberi lebel khusus “untuk Gohan nanti”.

Tidak ada catatan yang diberikan untuknya di acara saling memberi ucapan waktu itu, acara berakhir setelah dentingan jam dinding mengisyaratkan bahwa jarum jam, menit dan detik berada pada satu titik, jam 00.00 WIB tanggal 1 Januari 2006.

Anggota keluarga besar yang hadir tak lantas membubarkan diri, lingkaran yang sama di bentuk kembali, dan formatnya berbeda dari yang dibuat sebelumnya, satu orang berada di tengah yakni Gohan Matondang, sang anak kesayangan yang dilepas menimba ilmu ke Medan dan memikul harapan keluarga untuk pulang sebagai penginjil sejati. Kini berada di tengah berada untuk di sidang diminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya, yang menurut pemahaman keluarga telah merusak nama baik keluarga. Dirnya dinilai telah mempersiapkan diri menjadi teroris. Apalagi saat itu (tahun 2005) sedang hangatnya berita tentang Noordin M Top. Dan banyak tudingan tudingan jelek di voniskan padanya.

Apalagi di waktu, ada orang Jawa muslim yang bekerja sebagai pembantu di rumah, namun Muslim satu ini bukannya yang faham akan ilmu agama, hanya menyandang Islam d KTP nya, saja, ikut makan babi bersama keluarga nya yang lain.

“Ketika pembantu itu di tanya oleh tulang tulangku (paman, red), Islam itu kawin cerai kan?, Islam itu teroris kan?, setiap pertanyaan dari tulangku itu dijawab oleh pembantu kami dengan kata ya,” tandasnya

Sang ibu ikut menceritakan kesedihannya kepada sang anak, rasa malu yang harus di tanggung oleh orang tua kepada orang banyak, bahwa anaknya telah jadi murtad, telah masuk Islam. Rasa malu itu tak bisa di sembunyikan ibunya.

“Ibu mengatakan, nak, kalau lah bisa kepala mamakmu ni di titip di rumah, tak akan mamak bawa pergi ke pasar, tak tahu harus di tarok dimana muka mamakmu ni, malu mamak, anak mamak jadi murtad, sudah masuk Islam, malu mamak pada orang sekampung,” kata Gohan menirukan penuturan ibundanya

Kata pemungkas di akhir sidang keluarga, datang dari salah satu tulangnya, kepadanya diberikan dua pilihan sulit, ikut ke gereja esok hari, yang kebetulan pada tanggal satu Januari 2006 itu adalah hari Minggu. Atau keluar dari rumah dengan menanggalkan nama keluarga. Tak ada lagi pengakuan keluarga jika agama keponankannya adalah Islam.

Selepas itu, Gohan masuk kamar, dengan hatinya yang di rundung sedih, rasa sayang kepada bapak dan ibu serta saudara saudara yang lain, harus di pisahkan hanya karena keyakinan berubah. Tanpa penyesalan, tanpa dendam atas apa yang telah berlaku malam itu. di kamar Gohan menghabiskan waktu untuk berzikir. Berserah diri kepada Allah.

Kata kata sang tulang, masih tergiang di telinganya. Hati yang telah bulat untuk memilih Islam dari pada harus pergi ke gereja esok hari. jam 03.00 WIB dini hari, Gohan memantapkan langkahnya keluar dari rumah yang telah membesarkannya selama ini.

“Alhamdulillah, dengan izin Allah, dengan mudah saya menentukan pilihan, jam tiga pagi, saya keluar dari rumah, saya tidak mau pergi ke gereja hari minggu, saya pergi dari rumah dengan hanya membawa pakaian di badan dan hp kecil saja,” ceritanya dengan haru

Jadi Garin Musholla Kampus

Dari rumah di Labuhan Batu, Gohan kembali ke kampusnya di ITM Medan, rumah Allah rupanya memberikan perlindungan kepadanya. Musholla yang selama ini tempatnya berdiskusi ilmu agama dengan ustadz Razali, menjadi rumahnya kini, dia diterima sebagai Garin (orang yang bertugas melakukan adzan  ketika datang waktu shalat).

Dengan menjadi Garin di Musholla kampus, Gohan tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar kost, pihak kampus menyediakan tempat tinggal untuk Garin di musholla. Tak berselang lama, bantuan Allah pun datang, Gohan di terima bekerja di sebuah Apotik di Medan, gajinya di dua tempat itu cukup untuk menghidupi dan membiayai kuliahnya di ITM.

“Allah memang maha besar, tidak lama dari kejadian itu semua, rezeki pun datang, di terima sebagai garin masjid, dan juga di terima bekerja di sebuah apotik di Medan, kebutuhan untuk kuliah waktu itu tercukupi,” kenangnya

Aktifitas yang cukup padat di tiga tempat tersebut membuat Gohan khawatir, rutinitas kampus, dan sebagai pegawai apotik serta sebagai garin di sebuah Musholla akan menghilangkan kesempatan nya untuk mendalami agama Islam, mempelajari Al Qur an dengan sempurna.

Dari beberapa teman se aqidah di kampus ITM, Gohan di kasih support untuk meninggalkan Teknik Arsitektur yang sudah enam semester di pelajarinya di bangku kuliah, beberapa teman memberi masukan bahwa teknik arsitektur bukan pilihan terbaik untuknya saat itu, ada karunia Allah yang terbaik untuknya di kemudian hari. Mendalami ilmu agama di pesantren adalah langkah yang dinilai tepat kala itu.

Hijrah...

Selengkapya di Seputar Pelalawan Edisi Senin 10 Juli 2017

Tulis Komentar
comments powered by Disqus