Ryan Giggs di Usia 40 Tahun

Legenda Sang Maestro Sepakbola Old Tarfford

Kamis,28 November 2013 | 06:40:00
Legenda Sang Maestro Sepakbola Old Tarfford
Ket Foto : Ryan Gigs

PelalawanNews.com-Meski usia nya sudah tidak muda lagi untuk ukuran seorang pesepakbola profesional. Ryan Giggs yang segera memasuki  usia ke-40 masih enggan untuk menyatakan pensiun. Di Partai partai penting Manchester United, klub yang dibela sepanjang karir sepakbolanya selalu ada tempatnya untuknya bermain. Seperti padapenyisihan group Liga Champion, Manchester United versus Leverkusen, Giggs masih ikut bermain.


Walaupun sudah memasuki usia kepala empat, performa winger yang memiliki kecepatan ini masih dianggap cukup baik, baik sekutu dan seteru di lapangan hijau memberikan apreasiasi atas dedikasi Ryan kepada sepakbola dunia.

Dengan berbagai fantastis yang ditorehkannya di lapangan hijau, Giggs pantas untuk dinobatkan menjadi Maestro Sepakbola terbaik Premier League sepanjang masa.

Di klub besar sekelas MU, tidak banyak pemain yang mampu bertahan untuk jangka waktu yang sangat lama. Giggs adalah salah satunya. berkarir di Old Trafford, konpetisi antar pemain untuk masuk line up pada sebuah pertandingan juga dirasakan Giggs untuk memperebutkan posisi inti.

Nama besar dan skill Giggs sudah hampir pasti masih akan jadi magnet yang menarik untuk klub divisi Championship atau League One. Pria wales ini lebih memilih untuk bertahan di Old Trafford, salah satu tim terbaik di Eropa. Sudah pasti tidak mudah untuk menembus jajaran tim inti, mengingat usia yang tidak muda.

Antusiasme yang besar seperti itulah yang sudah jarang kita lihat di kalangan pesepakbola profesional belakangan ini. Kebanyakan dari mereka hanya memikirkan siapa yang bisa membayar paling banyak untuk jasa mereka.

Pecinta sepokbola mungkin sempat berpikir jika Giggs akan menerima kontrak bergaji besar dari klub antah-berantah di Amerika atau jazirah Arab di penghujung karirnya, seperti eks rekan setimnya, David Beckham

Konsisitensi dalam setiap penampilan menjadi salah satu faktor mengapa Giggs bisa begitu lama bertahan di kerasnya belantara Premier League. Tidak kehabisan teknik melewati lawan membuat pelatih terkesan.

Di usianya yang ke 30 tahun, Pada fase yang sama, rekan setim Giggs, Paul Scholes, sudah tak lagi memiliki kemampuan yang membuatnya hebat di masa jaya MU dahulu., ia tak perlu lama-lama menunggu untuk menemukan second wind-nya. Giggs justru makin matang. Tekniknya makin terasah. Kini ia tak lagi sering mengandalkan kcepatan, namun lebih tenang dalam membaca gerakan lawan dan permainan secara keseluruhan.

 

Semenjak ia memulai karirnya di usia 14 tahun, Giggs tidak pernah berpindah klub. Padahal sang pemain sempat juga diisukan diminati oleh dua klub raksasa Eropa lainnya, buktinya saat ini ia tetap menjadi penggawa Old Trafford hingga saat ini.

Walaupun bermodalkan status pemain senior, Giggs tidak pernah menuntut peran lebih di klubnya, ia lebih suka untuk menyokong para pemain muda.
Meski belum lama diangkat menjadi staf pelatih United, Giggs acapkali memberikan nasihat dan saran penting untuk para pemain muda, agar mereka bisa megembangkan tekniknya lebih baik lagi.

Kesimpulannya, Giggs tidak keberatan untuk terus berada di belakang layar dan memberikan kesempatan pada sosok lain untuk memainkan peran yang lebih besar. Namun jika diminta, maka ia akan siap untuk memberikan segalanya untuk Manchester United.


Ryan Giggs sudah melewati dua final Liga Champions dengan sukses, menjalani pekan-pekan krusial di Premier League secara sempurna, dan acapkali mencetak gol penting di saat tim amat membutuhkannya.

Perilaku Giggs yang berselingkuh dengan adik iparnya sendiri memang tidak patut untuk ditiru. Namun sebagai seorang pesepakbola, Giggs adalah panutan yang sempurna.
 

Di beberapa klub besar Eropa, memang sering terliaht ada pemain dengan tipe yang kurang lebih sama. ambisius maju ke daerah pertahanan lawan dan melakukan semua tugas dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Untuk waktu yang singkat mereka mungkin mendapat sanjungan, namun mereka akan sulit untuk melepaskan label sebagai pemain egois.

Lain halnya dengan Giggs. Menyusul kemantangannya dalam berpikir, ia tahu kapan waktunya untuk melakukan akselerasi penuh atau melepaskan operan sederhana ke lini tengah.

Sang Winger andalan Old Trafford ini adalah tipe pemain yang selalu mampu membaca situasi dan tetap tenang sebelum mengambil keputusan. ia akan memanfaatkan kecerdasan berpikirnya dalam menentukan ritme permainan. Skill seperti ini hanya dimiliki oleh pemain yang bertipe gelandang kiri / kanan sejati, bukan winger, seperti Xavi dan Scholes.

 

Editor             : Apon Hadiwijaya

Sumber            : Bola.net

Tulis Komentar
comments powered by Disqus