*Pencaloan Tenaga Honorer

YF Ditangkap, Keterlibatan Atasan Dipertanyakan

Senin,05 Desember 2016 | 09:22:00
 YF Ditangkap, Keterlibatan Atasan Dipertanyakan
Ket Foto : YF ketika dijemput oleh anggota Polres Pelalawan di Kantor Diskes Pelalawan

PANGKALANKERINCI (SP) - Minat masyarakat Pelalawan untuk menjadi tenaga honorer di instansi pemerintah sangat besar. Hal ini pula yang membuat banyak yang rela menyogok jutaan hingga puluhan juta kepada pejabat atau melalui orang dekat pejabat.

Harapannya dengan adanya sogokan itu bisa diterima menjadi tenaga honor. Soal gaji honorer yang relatif kecil tentunya tidak begitu jadi permasalahan, yang jelas bisa beraktivitas dengan memakai seragam abdi negara.

Dua pekan lalu, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Pelalawan, dengan inisial YF (33) ditangkap oleh pihak kepolisian Sektor (Polres) Pelalawan karena diduga menipu seorang warga. Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan itu menipu dengan menjanjikan korbannya masuk menjadi honorer.

Akibat penipuan yang dilakukan YF tersebut, korban bernama NE (25) mengalami kerugian sebesar Rp 35 juta. Tidak terima dengan aksi penipuan itu, korban melaporkan kasus ini ke Polres Pelalawan.

Informasi yang dihimpun Seputar Pelalawan, penangkapan terhadap YF itu atas laporan  LP/382/XI/2016/RIAU/RES PLWN, setelah mendapatkan laporan petugas langsung bergerak cepat untuk mengamankan terlapor.

"Setelah mendapat laporan, kita langsung membekuk tersangka. Dalam kasus ini kita menyita kwitansi untuk penerimaan tenaga honorer pada dinas Kesehatan," ujar Kapolres Pelalawan, AKBP Ari Wibowo melalui Kasat Reskrim, AKP M Faizal.

Berdasarkan keterangan korban, kejadian itu terjadi pada 16 September 2015. Saat itu tersangka bertemu dengan korban. Kepada NE tersangka mengaku sanggup memasukkan menjadi tenaga honorer di dinas kesehatan.

Namun untuk memuluskannya, YF meminta NE untuk menyiapkan uang sebesar Rp. 35 juta. Karena tergiur dengan pekerjaan yang ditawarkan, NE akhirnya menyiapkan uang yang diminta. Namun usai uang diberikan, janji YF memasukkan NE bekerja tidak kunjung ada.

Karena tidak kunjung diterima, korban mengaku selalu menagih janji dari sang calo itu, namun YF selalu mengelak. Ketika NE meminta uang kembali, YF tidak mengabulkan. Karena sudah lebih setahun tidak kunjung ada kejelasan, korban melaporkan kasus ini ke polisi.

"Untuk saat ini, tersangka sudah kita amankan di Mapolres Pelalawan untuk menjalani proses lebih lanjut, mengenai rekan tersangka, belum kita ketahui, karena masih dalam proses penyidikan," imbuh Faizal.

Sebagaimana diketahui, setiap kali musim penerimaan Calon tenaga honorer di Pelalawan, maka mengambang pula lah aroma sogok atau suap menyuap. Ini bukan untuk mengajarkan hal buruk tapi sebaliknya agar melihat dengan jernih permasalahan yang kita hadapi agar kita pandai menyikapinya.

Mungkin ada yang tak sependapat, atau tak suka, atau bahkan akan minta bukti terjadinya perbuatan yang tak mudah diketahui itu. Namanya juga illegal dan sembunyi-sembunyi, manalah mudah membuktikannya kecuali para pelakunya mengaku atau menceritakannya kemudian setelah merasa dirugikan.

"Hal ini sudah biasa, kalau yang membayar atau menyuap itu berhasil masuk, tentunya tidak ada permasalahan sama sekali, karena sudah sama-sama diuntungkan, tapi kalau tidak, inilah yang terjadi saat ini. Bisa jadi ini sebagai permulaan," ungkap Ismail salah seorang warga Pangkalan Kerinci kepada Seputar Pelalawan.

Dikatakannya, penerimaan tenaga honorer di Negeri Amanah itu memang menjadi mata pencaharian bagi sekelompok orang yang ingin memanfaatkan kekuasaannya, bahkan sebelumnya Ismail mengaku pernah diberikan tawaran serupa.

Namun karena masih berfikir positif dan tidak ingin membuang keahliannya, ia lebih memilih untuk membuka usaha dibandingkan bekerja sebagai pegawai di salah satu Instansi di Kabupaten Pelalawan.

"Sekitar empat tahun yang lalu, saya ditawarkan untuk menjadi tenaga honorer, saat itu saya dimintakan uang sebesar Rp. 25 juta, tapi setelah saya pikir-pikir, dibandingkan menjadi honorer, lebih baik saya membuka usaha yang hasilnya lebih jelas," pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan, Endid Romo Pratikno saat dihubungi Seputar Pelalawan mengenai kasus suap dibawah instansi yang dipimpinnya, ia lebih memilih bungkam dan tidak mengangkak telepon genggamnya.

Disisi lain, Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Pelalawan, T Mukhlis mengatakan, terkait tertangkapnya YF dalam kasus pencaloan tenaga honorer tidak ada hubungan dengan Pemerintah Kabupaten Pelalawan.

Pasalnya, menurut mantan Camat Pelalawan itu kasus tersebut tidak tersangkut dengan pemerintahan dan tidak sedang dalam melaksanakan tugas dan dan tidak dalam kapasitas melaksanakan tugasnya.

"Tindakan yang dilakukannya (YF,red) bukan dalam kaitan tugas pokok, jadi tidak ada bantuan hukum dari pemerintahan daerah," pungkasnya.

Sementara itu, pengamat pemerintahan, Khusnu Abadi mengatakan, bahwa dalam operasi pungutan liar (Pungli) dalam hal ini penerimaan tenaga honorer tidak mungkin hanya sebatas bawahan, tentunya ada keikutsertaan atasan.

Mengenai hal itu, ia meminta kepada pihak penegak hukum untuk membersihkan praktek tersebut hingga ke otak-otaknya, jangan sampai diberantas bawahnya saja yang diproses, kalau tidak praktek tersebut nantinya akan terus memakan korban.

"Untuk menegakkan birokrasi yang bersih, tentunya harus ada penegakan hukum yang jelas. Kalau sudah ada yang tertangkap, seharusnya praktek ini harus dibersihkan hingga ke panglimanya (Atasan,red), sebab pelaku tidak mungkin berjalan sendiri, atasannya juga harus diseret," ujarnya.(Fadh)

Tulis Komentar
comments powered by Disqus