Dipukul Hingga Memar, Keluarga Polisikan Guru

KPAI Tak Bela Korban Kekerasan

Selasa,27 September 2016 | 01:30:00
KPAI Tak Bela Korban Kekerasan
Ket Foto : Stp kekerasan

PANGKALANKERINCI (PelalawanNews.com) - Tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi, kali ini di Sekolah Dasar Negeri(SDN) Bernas Binaan Dinas Pendidikan Provinsi Riau, murid yang menjadi korban adalah HS (11) yang duduk di bangku kelas VI.


Fikri Aryanto (21), kakak korban kepada Seputar Pelalawan mengatakan, kejadian pemukulan terhadap adik kandungnya itu setelah sang adik menolak perintah guru Agama Islam yang tengah mengajar untuk keluar dari ruangan kelas.

"Menurut pengakuan adik saya HS, sebelum dikejar dan dipukul guru, ia terlebih dahulu diperintah untuk keluar, tapi ia tidak mau keluar lantaran tetap ingin belajar, makanya ia dipukul guru," terangnya.

Diakui Ari, dalam pergaulan sehari-hari prilaku adiknya tersebut memang nakal, namun karena dipukul dengan sapu hingga berbekas di pangkal paha tersebut bukanlah salah satu bagian dari pelajaran.

"Saya akui adik saya memang nakal, tapi kalau cara memberikan pelajarannya dengan cara memukul sampai memar, itu sudah diluar aturan dan melanggar Hak Azazi Manusia (HAM)," tegasnya.

Dipaparkannya, kejadian pemukulan terhadap HS sekitar pukul 09.00 WIB dan keluarga baru mengetahui kejadian setelah HS pulang dari sekolah sekitar pukul 13.00 WIB.

Mendapat kabar bahwa HS dipukul oleh sang guru, Ari bersama Undris (ayah kandung korban) langsung mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi atas pemukulan hingga berbekas itu.

Namun niat baik dari sang ayah tidak berbalas dengan baik, ketika itu pihak keluarga hanya bisa berjumpa dengan Kepala Sekolah, namun saat ingin bertemu dengan sang guru yang diketahui bernama Selamat itu, pihak sekolah melarang dan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut.

"Ketika pertama kali mengetahui kejadian, kami langsung mendatangi pihak sekolah dengan tujuan menanyakan perihal kejadian sebenarnya, tapi disana kami menemui pihak sekolah tidak bisa mempertemukan kami dengan pak Selamat," ulasnya.

Dikarenakan tidak mendapat tanggapan yang baik dan itikad baik dari guru yang telah memukul HS, Ari mengatakan pihak keluarga segera membawa kasus pemukulan tersebut ke pihak kepolisian untuk diselesaikan melalui jalur hukum.

Tepatnya pada hari Kamis dua pekan lalu, Ari menuturkan pihak keluarga melaporkan kejadian itu dan baru bisa ditindak lanjuti saat Kasat Reskrim kembali pada Senin (19/9) untuk menandatangani Berita Acara Perkara (BAP).

Penyelesaian kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur itu tidak berhenti diditu saja, setelah menerima laporan pihak kepolisian mencoba untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara kekeluargaan yakni membuat pertemuan dengan pihak Dinas Pendidikan, SDN Bernas dan pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

"Upaya damai sudah pernah dilakukan beberapa kali, tapi tidak ada titik temu karena seluruh pihak termasuk KPAI memaksa kami untuk menghentikan kasus tersebut, padahal KPAI seharusnya membela anak yang telah menjadi korban kekerasan, ini malah membela guru sadis," keluhnya.

Bagi Ari dan keluarga, kejadian tersebut tidak begitu menjadi permasalahan, namun yang menjadi persoalan adalah mengenai mental psikologis HS yang sudah terganggu, sehingga membutuhkan penyelesaian permasalahan dengan cara adat.

Sebagaimana diketahui, sejak pertama kali terjadi, hingga saat ini HS yang telah menjadi korban kekerasan terhadap anak dibawah umur itu tidak mau lagi datang ke sekolah karena malu dan takut akan terjadi sesuatu.

"Sejak kejadian, adik saya sudah tidak sekolah 2 minggu, itu artinya mental psikologis adik saya sudah terganggu, ini yang menjadi perhatian penting bagi kami," tuturnya.

Guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang merugikan, karena pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah dekat, pihak keluarga sudah mencoba untuk memindahkan sekolah HS ke salah satu sekolah.

Namun hal yang sangat mengejutkanpun terjadi, Kepala Sekolah tempat rencana HS dipindahkan mengaku mendapatkan tekanan dari Dinas Pendidikan melalui Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Kecamatan Pangkalan Kerinci.

"Dari salah seorang kepala sekolah, kami mendapatkan kabar bahwa tidak ada sekolah satupun yang boleh menerima pindahnya adik saya, padahal itu salah satu jalan keluar agar adik saya tetap sekolah," terangnya.

Akan tetapi, Ari mengaku hal tersebut tidak menjadi masalah bagi keluarganya, karena UN sudah dekat, pihak keluarga berencana untuk memindahkan HS ke salah satu sekolah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Selanjutnya, mahasiswa Universitas Riau (UNRI) itu berharap, dengan berjalannya kasus tersebut, maka kedepannya tidak ada lagi kasus kekerasan yang terjadi di dalam dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Pelalawan.

"Semoga saja ini kejadian yang terakhir dan tidak ada lagi korban berikutnya, sebab pendidikan dengan kekerasan sekarang bukan lagi zamannya," tutup Ari.

Sementara itu, pihak Seputar Pelalawan sudah mencoba untuk menghubungi Selamat untuk dimintai keterangan perihal kejadian itu, namun pihak Selamat belum mau memberikan keterangan.

Sebelumnya di SDN 009 Pangkalan Kerinci juga terjadi tindakan kekerasan terhadap murid, namun pihak sekolah membantah kejadian itu sebagai miskomunikasi.

"Kejadian itu terjadi karena miskomunikasi, tapi permasalahannya sudah selesai dengan cara kekeluargaan," ungkap Adnan, Kepala SDN 009 Pangkalan Kerinci beberapa waktu lalu.(Fadhly)

Tulis Komentar
comments powered by Disqus