Kado Kemerdekaan RAPP Untuk Masyarakat Desa Sering

Limbah Pabrik Bunuh Ikan Sungai Kampar

Senin,22 Agustus 2016 | 08:27:00
Limbah Pabrik Bunuh Ikan Sungai Kampar
Ket Foto :

PELALAWAN (news.comPelalawan) - Sehari setelah perayaan peringatan Hari Proklamasi ke 71, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 2016, Masyarakat Desa Sering Kecamatan Pelalawan terusik kemerdekaannya, limbah limbah yang diduga berasal dari saluran pembuangan sisa pengolahan industri bubur kertas PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menjajah sumber air bersih mereka.

Tak hanya air yang di pergunakan untuk mandi dan mencuci yang di serang oleh limbah RAPP itu, ikan ikan yang menjadi sumber kalori masyarakat di sekitar Sungai Kampar ini mati dan mengapung di permukaan sungai disertai mengeluarkan bau busuk.

Melihat peristiwa yang tak biasa terjadi di tempat mereka mengais rezeki selama ini, masyarakat yang merupakan tetangga dekat perusahaan pengolahan kayu menjadi bubur kertas ini pun sontak berkumpul dan mengeluarkan unek unek serta perasaan kecewa.

Tak berselang waktu lama, massa dalam jumlah besar berkumpul dan bergerak menuju Trintik dimana limbah industri dari pipa milik RAPP yang bocor.

“Masyarakat sangat kecewa, limbah dari PT RAPP itu membunuh mata pencarian kami, air sungai Kampar tempat kami mandi sehari hari telah tercemari limbah yang berasal dari pipa yang bocor di Trintik milik RAPP,” tukas Iwan (33) Warga Desa Sering kepada SP di TKP, Kamis (18/8)

Lebih lanjut di keluhkan Iwan, kejadian seperti ini bukan hal baru bagi masyarakat Desa Sering, setiap tahun selalu saja bencana datang yang disebabkan ulah yang tidak bertanggung jawab dari raksasa industri Pulp milik Sukanto Tanoto ini.

Seperti kejadian di tahun sebelum sebelumnya, setelah iwan ikan mati mengapung di sungai, praktis mata pencarian masyarakat terganggu, untuk mengembalikan ke keadaan semula, sungai sebagai habitat ikan membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk dapat menghasilkan ukuran ikan bisa bernilai di pasaran.

Dengan kondisi sekarang ini, pasca kejadian matinya ikan di daerah tangkapan masyarakat, tiga bulan ke depan masyarakat akan kehilangan mata pencarian, nasib hidup ratusan keluarga di Desa Sering akan memprihatinkan.

“Biasanya, setelah kejadian ikan mati, habitat ikan baru kembali dalam jangka waktu tiga bulan, selama itu pula, kehidupan keluarga kami akan sangat sulit, mungkin satu satunya jalan kami mencoba untuk mencari ikan diwilayah lain,” lanjutnya dengan nada pasrah

Senada dengan Iwan, salah seorang warga Desa Sering lainnya, Ujang (55) mencurigai pihak perusahaan sengaja membuang limbah di malam hari, ketika warga terlelap dalam tidurnya.

“Dugaan kami, limbah itu sengaja di buang, mungkin di lakukan sekitar pukul 03.00 Wib atau dini hari,” kata Ujang.

Ujang berharap, pihak perusahaan menghentikan kegiatan kegiatan yang tidak benar, karena limbah yang mengalir ke sungai itu akan membahayakan kesehatan masyarakat banyak.

Walau saat, saat mediasi yang dilakukan oleh anggota DPRD Pelalawan dengan perwakilan manajemen RAPP, masyarakat sudah terlanjur tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh perwakilan perusahaan.

‘Tidak ada yang benar apa yang disampaikan oleh RAPP, mereka selalu menindas,” imbuhnya

Saat terjadi kejadian ikan ikan mati di Sungai Kampar, masyarakat setempat tidak bisa membayangkan akan hadirnya pemerintah di tengah mereka yang mendengarkan dan mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi, apalagi perpanjangan tangan pemerintah dalam mengurus masalah lingkungan itu adalah Badan Lingkungan Hidup (BLH) yang sejak berdiri sampai sekarang ini belum sekalipun menunjukkan kinerja nyata, keputusan akhirnya pasti akan meringankan perusahaan.

“Kami tidak peduli lagi dengan sampel air, kalau mau, BLH ambil sendiri, tidak ada yang selesai di tangan BLH itu, ujung ujungnya BLH akan menunjukkan hasil labor bahwa ikan kekurangan oksigen, cerita basi” rungutnya

Kalau kehadirannya tak dinantikan, BLH Kabupaten Pelalawan tetap saja menyempatkan diri untuk menunjukkan bahwa instansi pemerintah ini bekerja, air sungai Kampar di masukkan ke dalam botol dan diberi labor di bawa ke kantor sebagai sampel.

“Saat mendengar ada ikan mati, kita langsung turun ke lapangan,” kata Kepala BLH Syamsul Anwar kepada Sp, Jum at (19/8).

Setelah sampel air di dapat, dan langsung di kirim ke laboratorium, untuk di ketahui kandungan air sungai kampr itu, apakah terkandung zat zat kimia berbahaya atau kemungkinan lain yang menyebabkan banyak ikan mati.

‘Sudah kita kirim ke lab, di tunggu saja hasilnya,” tandas Syamsul

Sementara itu, Humas RAPP, Disra Aldrick dalam siaran pers nya memberi tanggapan atas kejadian yang terjadi di sungai Kampar tepatnya di Desa Sering Kecamatan Pelalawan pada Kamis(18/8) kemarin, menurut Erik, ikan mati tidak disebabkan oleh limbah melainkan karena banyak lumpur di sungai akibat dari pembersihan kanal.

“Berdasarkan pemeriksaan di saluran kanal tidak ditemukan indikasi adanya limbah yang bisa menyebakan kematian ikan ikan seperti dugakan. Dugaan sementara, kematian puluhan ikan tersebut adalah akibat adanya proses perawatan kanal (cuci kanal),” jawab Humas RAPP ini.

Masih dalam siaran pers RAPP yang dikirimkan Erik, perusahaan juga menuding Hutan Tanaman Rakyat Desa Sering memiliki andil amtinya ikan di sungai Kampar itu.

“Lumpur yang dibawa oleh arus sungai itu merupakan dampak dari proses perawatan kanal dilakukan di dalam areal Hutan Tanaman Rakyat Desa Sering,” tulis erik dengan menambahkan Hutan Tanaman Rakyat itu juga bekerjasama dengan perusahaan, dimana kanal tersebut saling terkoneksi.(Tim)

Tulis Komentar
comments powered by Disqus