Tak Masuk 10 Wisata Prioritas 2016

Bono Dibawa Riau Menyapa Dunia

Sabtu,28 Mei 2016 | 11:52:00
Bono Dibawa Riau Menyapa Dunia
Ket Foto : Ketua Satma PP Pelalawan, Dwi Surya Pamungkas

PANGKALANKERINCI (Pelalawannews.com) - Pemerintah Propinsi Riau sudah mulai lirik sektor pariwisata sebagai andalan, dan tidak bisa terpaku kepada sektor yang selama ini jadi primadona yakni perkebunan dan migas.

Serius mengembang potensi wisata yang ada di Riau, didukung oleh Kementerian Pariwisata pada Jumat (27/5) lalu menggelar kegiatan promosi wisata melayu yang bertajuk "Riau Menyapa Dunia" yang bertempat di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona Kementrian Pariwisata, dihadiri oleh Menpar Arief Yahya bersama Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, dan beberapa Bupati dan pejabat di dinas terkait.

Tujuan dari promosi itu untuk mendukung target pariwisata nasional,  Provinsi Riau setidaknya memiliki lima agenda atau kalender event tetap dengan mengandalkan potensi berupa daya tarik alam, budaya dan wisata buatan.

Adapun kelima event wisata tersebut yakni  event Pacu Jalur Kuansing, Festival Bakudo Bono Pelalawan, Tour de Siak, Pacu Jalur Kuansing, Bakar Tongkang, Gema Muaharam Indragiri Hilir dan Riau Marathon.

Masuknya salah satu potensi wisata Kabupaten Pelalawan, Bakudo Bono dalam tajuk "Riau Menyapa Dunia" mendapat  tanggapan dari ketua Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) Kabupaten Pelalawan, Dwi Surya Pamungkas. Menurutnya dengan masuknya wisata Bono dalam program kepariwisataan yang dikembangkan propinsi Riau, akan lebih memungkinkan terbangunnya berbagai infrastruktur penunjang di sana.

"Kita mendukung program "Riau Menyapa Dunia" itu, apalagi Bakudo Bono masuk dalam satu event yang akan dikembangkan oleh pemerintah propinsi Riau. Artinya ada harapan yang lebih baik kedepannya wisata Bono di Teluk Meranti," ujarnya

Dikatakan Dwi, potensi wisata Bono yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Kabupaten Pelalawan masih belum tersentuhnya infrastruktur pendukung sehingga keindahan Bono yang diagung agungkan Pemkab Pelalawan hanya bisa diangankan saja, untuk dapat menikmati keindahan Bono itu butuh perjuangan panjang karena mininnya infrastruktur, seperti jalan dan fasilitas lainnya.

"Infrastruktur tidak dibangun, apa yang mau disapa dunia dari Bono itu, Kabupaten Pelalawan pun tak bisa di sapa," katanya

Cerita Bono, yang disebut oleh masyarakat sekitar sebagai tujuh hantu itu, lanjut pemuda Desa Sungai Ara ini, tidak ubahnya seperti cerita mistis yang mengiringi cerita Bono itu sendiri, sejak masuk dalam tujuh program strategis Pemkab Pelalawan yang bernama program Pelalawan Eksotis, wisata di Kabupaten Pelalawan. Bak cerita hantu, yang hanya di ketahui dari cerita, untuk menyaksikan langsung tidak bisa.

"Pelalawan Eksotis tidak strategis, tidak ada keberhasilan Pemkab Pelalawan dalam memajukan pariwisata di daerah ini, semua hanya keindahan semu yang di gembar gemborkan Pemkab selama ini," ungkapnya

Di akhir tahun 2015, Masyarakat Kabupaten Pelalawan harus menerima kenyataan pahit, Kementerian Pariwisata tak memasukkan wisata Bono dalam 10 destinisasi wisata prioritas tahun 2016, artinya pemerintah pusat tidak ikut serta mempromosikan wisata Bono ke dunia internasional.

"Jadi cerita cerita mendunia itu terbantahkan oleh keputusan Menteri Pariwisata yang menetapkan 10 tempat wisata yang jadi prioritas tahun 2016, Bono tidak masuk,"terangnya  

Dijelaskan Dwi, menjadi tanggung jawab Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pelalawan yang mengakibatkan semua wisata di negeri seiya sekata ini mati suri. Tak tergarap maksimal. Utamanya wisata Bono itu.

"Semua seakan eksotis ketika mendengar bualan kadisbudparpora saja, sedangkan progres dari pengembangan wisata di daerah ini nol besar," tandasnya

Dari tujuh program strategis yang di gesa Bupati Pelalawan, hanya Pelalawan Eksotis yang jalan ditempat, dengan ikut campurnya Pemprop dalam pengembangan wisata di Pelalawan, bisa jadi akan mendongkrak kesusksesan Bupati Pelalawan dalam melengakapi ketujuh program strategis yang dijalankannya.

"Kalau Pelalawan Eksotis, tanpa dibantu Pemprop tidak akan bisa, Pengembangan wisata itu tidak bisa melalui cerita kopi saja, perlu kerja keras serius pejabat terkait, itu akan dilakukan oleh Dinas Pariwisata propinsi," sambungnya

Dengan adanya agenda wisata yang di gesa oleh Pemprop Riau, Dwi berharap  hasilnya tidak sama dengan yang di gesa oleh Pemkab Pelalawan, sehingga wisata bisa menjadi sektor andalan dan mata pencarian masyarakat sekitar objek wisata.

"Jangan sampai  sudah di sapa dunia, selepas itu diam diam saja. Hanya sekedar menyapa, tidak menarik wisatawannya. Itu yang terjadi selama ini di Pelalawan,"tambahnya

Dwi berandai, jika apa yang dilakukan oleh Pemprop ini berhasil, pembangunan infrastruktur selesai, sarana dan prasarana memadai, dirinya berharap akan menjadikan peluang kerja bagi pemuda tempatan, seperti menjadi pemandu wisata, bekerja di tempat penyedia fasilitas wisata, pegawai wisma, restoran dan sebagainya.

"Pemuda tempatan pernah di ikutkan pelatihan menjadi guide beberapa tahun lalu, namun setelah selesai mengikuti pelatihan, ilmunya dibiarkan berkarat tidak di pakai di Kabupaten Pelalawan ini, usaha Disbudparpora mubazir, kedepannya jangan lagi seperti ini, pemuda harus diberdayakan" pungkasnya  (Erik)

Tulis Komentar
comments powered by Disqus