AKNP Dinilai Belum Layak Berdasarkan Visi Misi

Senin,16 Mei 2016 | 11:52:00
AKNP Dinilai Belum Layak Berdasarkan Visi Misi
Ket Foto : Kampus AKNP

PANGKALAN KERINCI (SP) - Berdiri sejak tahun 2012 silam, Akademi Komunitas Negeri Pelalawan (AKNP) dinilai tidak bisa berjalan sesuai dengan tujuan, salah satunya mencetak sumber daya manusia yang terampil.

Kekecewaan terhadap AKNP mulai dirasakan berbagai pihak, salah satunya adalah alumni. Janji sebelumnya yang mengatakan lulusan AKNP bisa langsung diterima kerja di beberapa perusahaan yang ada di Pelalawan itu hingga kini tidak terealisasi.

Salah seorang alumni AKNP yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan hampir seratus orang alumni AKNP, belum ada satupun yang mengecap pekerjaan berdasarkan kerjasama dari AKNP dengan perusahaan yang ada di Pelalawan.

Menurutnya apa yang dijanjikan AKNP bahwa lulusan AKNP bisa langsung bekerja di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Pelalawan itu sama sekali tidak tercapai atau nol besar, sehingga menimbulkan kekecewaan.

"Saya sangat kecewa dengan AKNP. Sebagai salah seorang Alumni, pihak akademi sama sekali tidak pernah menyediakan pekerjaan seperti apa yang dijanjikan sebelumnya," keluh pria tinggi besar itu.

Hal senda juga diungkapkan Dedi Marbun, yang telah lulus di tahun 2015 lalu mempertanyakan janji-janji kampus yang katanya akan mempekerjakan lulusan AKNP ke perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra kampus berplat merah itu.

"Nyatanya, sampai sekarang janji-janji itu tak pernah terealisasi. Padahal dalam spanduk, jelas digambarkan logo-logo perusahaan yang memiliki kerjasama dengan AKNP namun itu nyatanya hanya sebatas di spanduk saja," keluhnya.

Kekecewaan para alumni AKNP yang lulus dua tahun lalu itu, kini telah membuat mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di kampus yang berdiri di samping Pustakan Kabupaten Pelalawan itu menjadi cemas.

Bagaimana tidak, tujuan masuknya mahasiswa ke AKNP tersebut adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, jadi saat lulus dari akademi bisa langsung bekerja di perusahaan yang sudah meneken MoU dengan perusahaan.

Andre, salah seorang mahasiswa AKNP kepada Seputar Pelalawan mengaku saat ini sebagian besar mahasiswa sudah mengambil ancang-ancang untuk keluar dari akademi tersebut, mereka berkaca tidak ada satupun alumni yang diterima kerja di perusahaan.

Dikatakan Andre tujuan berdirinya AKNP yakni untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang terampil, kompeten dan pprofesional sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan industri di Kabupaten Pelalawan serta untuk memberikan kesempatan kepada putra-putri negeri Amanah Seiya Sekata ini untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.

"Sebagai salah seorang mahasiswa di AKNP saya sangat kecewa dengan kinerja dari pengurusnya, sebab apa yang menjadi tujuan didirikannya AKNP tidak tercapai dan hanya sebatas janji saja," ulasnya.

Tidak sampai disitu saja, Andre yang juga presiden BEM AKNP tersebut juga mengeluhkan sarana-prasarana yang ada di akademi yang tidak memadai, tidak adanya uji kompetensi dan isu korupsi Direktur AKNP yang membuat citra buruk AKNP.

Hal tersebut disampaikan Andre bersama rekan-rekan sejawatnya saat mengikuti hearing bersama anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pelalawan melalui komisi I beberapa waktu lalu.

Menurut Andre, apa yang menjadi tujuan dari AKNP tersebut harus diupayakan dengan maksimal, terutama bagi pengurus yang tidak bisa menjalankan tugasnya agar diganti dengan pungurus baru dan benar-benar mampu menjalankan tugasnya.

"Kita berharap wakil rakyat dapat mendengar apa yang menjadi keluhan kami, terutama mengenai fasilitas dan jaminan lapangan pekerjaan bagi lulusan AKNP sebagaimana yang dijanjikan," tegasnya.

Sedangkan Rustam Effendi selaku perwakilan dosen menitik beratkan pada persoalan listrik yang tiap tahunnya selalu terjadi seperti ini. Jadi seolah-olah, listrik yang mati atau dicabut ini dikarenakan telat membayar sudah menjadi tradisi di kampus.

"Hal itu yang saya persoalkan, karena sepertinya peristiwa ini selalu terjadi tiap tahunnya, tidak ada perubahan sama sekali," ujarnya.

Dosen AKNP lainnya, Roby, menjelaskan soal kompetensi yang diperlukan bagi mahasiswa dan dosen. Selaku orang awal yang ikut bersama-sama saat pertama kali AKNP berdiri, Roby mengatakan bahwa dulu  kompetensi guna peningkatam kualitas dosen ada, tapi sejak tahun 2014, kompetensi itu sudah tak ada lagi.

"Saya sendiri tak tahu alasannya, tapi sejak itu kualitas pengajaran tiap tahunnya selalu menurun," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Program Studi Diluar Domisili (PDD) atau Direktur AKNP, Mukhtarius, mengakui bahwa hingga saat ini AKNP belum bisa mandiri, sehingga tujuan dari didirikannya AKNP belum bisa tercapai dengan maksimal.

Mengenai kecemasan mahasiswa terhadap lulusan yang tidak mendapatkan jaminan pekerjaan, Mukhtarius yang juga menjabat sebagai kasi di Dinas Pendidikan (Disdik) Pelalawan tidak menyangkal hal itu.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh AKNP, memang belum ada kerjasama dengan pihak perusahaan tentang penerimaan tenaga kerja, pasalnya syarat yang dikeluarkan perusahaan terlalu tinggi.

"Kita akui bahwa belum ada lulusan AKNP yang diterima perusahaan, sebab selama ini perusahaan terlalu tinggi memberikan syarat untuk menerima pekerja," tandasnya.

Kedepan Mukhtarius berharap perusahaan yang ada di Pelalawan bisa menerima lulusan AKNP, sebab yang kuliah di AKNP adalah anak-anak yang berada di Pelalawan. "Kita berharap perusahaan bisa mengurangi persyaratan khusus untuk lulusan AKNP," pungkasnya.(Fadh)

Tulis Komentar
comments powered by Disqus