Festival bono, Catat Sejarah Baru di Dunia Surfing Internasional

Senin,18 November 2013 | 03:34:00
Festival bono, Catat Sejarah Baru di Dunia Surfing Internasional
Ket Foto : fenomena alam Bono di Teluk Meranti menjadi agenda tahunan Pemda Pelalawan

PANGKALAN KERINCI (Pelalawannews.com)-Festifal Bekudo Bono yang dihelat Pemda Pelalawan dalam rangka memperkenalkan fenomena alam yang terjadi di Teluk Meranti yang merupakan pertemuan antara air sungai dan air Laut di Sungai Kampar itu menimbulkan gelombang dengan ketinggian 12 meter dan panjang lintasan mencapai 30 meter bakal mencatatkan sejarah baru di dunia surfing internasional.

Pasalnya, pada festival Bekudo Bono yang akan dibuka oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dr Safta Nirwandar pada Selasa esok (19/11) merupakan perlombaan surfing pertama kalinya di adakan di sungai.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang juri kompetisi selancar Bono, Arya Soebaktio, Senin (18/11) mengatakan bahwa kompetsisi selancar Bono ini akan menjadi kompetisi selancar pertama di dunia yang dilakukan di Sungai.

“Pada festival Bono tahun ini, akan mencatatkan sejarah baru di dunia surfing internasional, karena baru kali pertama kompetisi selancar dilakukan di sungai” jelasnya

Arya menjelaskan dalam kompetisi yang akan diperlombakan nantinya akan dibagi kedalam dua kategori, yakni amatir dan profesional .

”Penilaiannya dari kompetisi ini adalah mencari peselancar yang mampu bertahan dangan waktu terlama dan jarak tempuh terjauh” ulasnya

Selain itu, di tambahkan Arya, melalui festival Bekudo Bono ini, akan mengembalikan nilai nilai budaya yang selama ini melekat erat dalam sejarah panjangnya hubungan antara gelombang Bono dengan masyarakat sekitar Sungai Kampar.

“Di dlaam festival Bono itu sendiri, nanti ada yang nama nya bekudo bono, yang artinya di dalam sebuah biduk kecil nanti ada dua orang yang akan mengarungi Bono, ini sudah dilakukan oleh masyarakat sekitar sungai kampar selama bertahun tahun” tambahnya

Bekudo Bono, merupakan budaya tradisional masyarakat di kecamatan Teluk Meranti dengan menunggangi biduk tanpa mesin.

“Budaya ini yang akan kita hidupkan kembali pada masyarakat sekitar, selain nilai kompetisi, promosi ada juga mengembalikan nilai nilai budaya lokal” pungkasnya.

Editor : Ayumi

Tulis Komentar
comments powered by Disqus