PT. LIH Tutup, Ribuan Nasib Karyawan dan PHL Tak Jelas

Senin,02 November 2015 | 10:57:00
PT. LIH Tutup, Ribuan Nasib Karyawan dan PHL Tak Jelas
Ket Foto :

PANGKALAN KERINCI – Dipenghujung bulan Juli 2015 silam, kobaran api yang membakar areal perkebunan sawit milik PT. Langgam Inti Hibrindo di Desa Gondai Kecamatan Langgam, Segala upaya sudah dikerahkannya agar api tidak merambat ke kebun warga dan lahan sekitar areal kebun. Salah satunya dengan menerjun banyak personil pemadam kebakaran dan dengan peralatan lengkap dari perusahaan perkebunan sawit itu.

 

Naas, api yang yang berkobar di areal perusahaan perkebunan sawit akhir Juli itu, juga turut mengantarkan Menejer operasional perusahaan di jeruji besi, sebagai pertanggung jawabannya atas peristiwa kebakaran di areal perkebunan perusahaan yang di pimpinnya. Tak sampai di situ, Pemerintah pusat bersikap, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup membekukan operasional perusahaan.

Dengan dikeluarkannya SK pembekuan tersebut, semua aktifitas operasional perusahaan langsung berhenti, tak ada lagi karyawan yang yang beraktifas di kantor maupun maupun di areal kebun perusahaan, semuanya berada dalam satus di rumah dalam jangka waktu yang tak di ketahui mereka.

Hal ini diungkapkan oleh Humas PT LIH Lagiman kepada pnc melalui smabungan seluler, dikatakannya bahwa manajemen perusahaan sangat menghomati semua proses hukum yang tengah hadapi.

“Prinsipnya kita mengormati semua proses hkum saat ini,” jelasnya

Terkait dengan status karyawan saat ini, diakuinya bahwa semua karyawan PT LIH sudah dirumahkan, karena perusahaan dilarang beraktifitas sampai masalah tuntas.

“SK pembekuan juga kita hormati, makanya kami karyawan kembali kerumah masing masing, dirumahkan istilahnya,” lanjutnya

Sampai saat ini, pihak manajemen belum mengambil keputusan untuk mem PHK kan karyawannya, semua hak karyawan dalam bentuk gai pokok akan tetap diberikan sebagai benuk tanggung jawab perusahaan memperhatikan karyawan sebagai bagian dari aset mereka.

“Hak hak kita sebagai karyawan tetap diberikan, sejauh ini belum ada keinginan perusahaan untuk mem PHKkan karyawan,” tuturnya

Meski menghormati keputusan pemerintah pusat membekukan operasional perusahaan, perasaan galau tentu dirasakan oleh seluruh karyawan. Karena kebutuhan ekonomi keluarga tidak dapat mengcukupi dengan mengandalkan gaji pokok semata.

“Jujur saja, selama ini kami bisa menghidupi keluarga kami karena adanya intensif dan tambahan dari lembur, kalau operasional tidak berjalan, akan sangat berat bagi karyawan bertahan dengan mengandalkan gaji tok saja,” bebernya

Jika kondisi ini akan berlangsung lama, akan sangat mungkin keputusan untuk memPHKkan karyawan dilakukan oleh perusahaan. Manajemen akan sangat berat harus membayar kewajibannya itu tanpa adanya penghasilan dari usaha yang tidak berjalan.

“Itu pasti terjadi jika kondisi ini berlangsung lama,” tandasnya

Kegalauan hati yang dirasakan oleh karyawan PT LIH ini yang juga ada yang berasal dari tenaga kerja tempataan juga dirasakan oleh Pekerja Harian Lepas (PHL) yang bekerja menjaga kebun, memanen di kebun perusahaan, ditambahkan lagi pekerja dari Serikat Pekerja Transportasi SPSI yang membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) saat ini tidak memiliki pendapatan sepersenpun.

“Kalau untuk PHL, kontraktor dan pekerja bongkar muat, dengan berat hati kita terpaksa tidak bisa memperkerjakan mereka saat ini, dan tidak ada kewajiban kita untuk membayar gaji mereka lagi, “ keluhnya

Dalam hitungan Lagiman, ada sekitar 2.000an karyawan yang bernaung di bawah bendera PT LIH, belum lagi bergerak nya ekonomi di sekitar wilayah operasional perusahaan, seperti pedagang yang membuka warung warung makanan dan minuman, dan petani petani sawit yang menjual TBS nya ke PT LIH pun merasakan imbasnya.

“Kalau di kalkulasikan, ada sekitar 700-800 orang yang menggantungkan hidupnya di PT LIH, dengan kondisi seperti ini tentu menjadi keprihatian kita semua,”tandasnya

Dari manajemen perusahaan, kata Lagiman, akan memperjuangkan masalah sampai tuntas agar semua yang menggantung hidupnya pada perusahaan sawit ini dapat kembali menghidupkan ekonomi mereka.

“Perusahaan akan memperjuangkannya, pada saat kita di kunjungi Disnaker dan DPRD juga kita jelaskan masalah yang dihadapi ribuan pekerja di PT LIH,” pungkasnya

Kecemasan serupa juga di ungkapkan oleh Kepala Desa Meranti, Karlan kepada Pnc mengatakan bahwa dengan dibekukannya operasional PT LIH, banyak warganya kini menjadi pengangguran, beban hidup yang semakin berat untuk menghidupi banyak keluarga akan semakin merunyamkan masalah.

“Imbasnya juga dirasakan warga Desa Meranti, banyak warga saya yang jadi pengangguran, kalau tidak di carikan solusi nya bahaya jadi nya nanti, bagaimana kelangsungan hidup anak anak mereka,” tandasnya 

Anggota DPRD Pelalawan Baharudin mengatakan bahwa bagaimanapun keputusan pemerintah pusat tetap harus di hormati, namun pemerintah daerah juga tidak akan tinggal diam, dan mencari solusi terbaik.

“Kita juga tengah berupaya mencari solusi terbaik agar nasib karyawan dan masyarakat sekitar tidak terkatung katung, dan nasib mereka jelas,” katanya (IU)  

Tulis Komentar
comments powered by Disqus