Saiman Pahpahan : Baliho Tak Pengaruhi Partisipasi Pemilih

Rabu,21 Oktober 2015 | 03:20:00
Saiman Pahpahan :  Baliho Tak Pengaruhi Partisipasi Pemilih
Ket Foto : Pengamat Politik, Saiman Pahpahan

PANGKALAN KERINCI (Pelalawannews.com) Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember 2015 diprediksi akan berjalan lancar. Sebanyak 269 daerah  (provinsi, kabupaten, dan kota) siap untuk melaksanakan Pilkada.

 

Namun begitu, sistim Pilkada yang sepenuhnya ada di tangan KPU membuat senyapnya hiruk pikuk Pilkada yang selama ini terjadi. Tak  ada tanda-tanda di suatu daerah yang melaksanakan Pilkada akan  berlangsung pesta rakyat.

Semua itu tersebab minimnya baliho, span-duk yang terpajang di sepanjang jalan. Ini pula yang dikahawatirkan banyak pihak kalau Pilkada serentak  akan melahirkan banyak Golput. Animo masyarakat untuk ikut  berpartisipasi memberikan hak politiknya akan turun drastis. 

Benarkah?Pengamat politik Riau Saiman Pakpahan yang diminta komentarnya  mengatakan, sistim dalam Pilkada serentak tidak akan memberi  pengaruh terhadap kuantitas. Sebab, partisipasi masya-rakat tidak  dipengaruhi oleh seberapa banyaknya baliho atau spanduk pasa ngan calon yang terpajang.

“Tingkat partisipasi pemilih akan sangat dipengaruhi seberapa kuat calon dalam mengakses patron-patron politiknya. Jadi, bukan karena sedikit atau banyaknya baliho. Semua karena adanya himbauan atau  ajakan dari pelaku politik yang memang menginginkan hal terse but,“ucap Saiman menjawab Pelalawannews.com yang dihubungi via telepon genggamnya, akhir pekan lalu.

Disebutkan saiman, Pilkada serentak memang menjadi gaweannya negara dan untuk kepentingan negara. Yang menjadi persoalan sekarang adalah, apakah rakyat yang tidak bisa dipisahkan dari proses politik dilibatkan atau tidak.

Kalau dilibatkan, pendekatannya jelas legal birokratik. Semua itu tersusun rapi dalam mekanisme yang sudah diatur negara.  Misalnya, pengambilalihan pembuatan baliho dan alat peraga lainnya  oleh KPU. Jelas kepentingan negara sangat kuat disitu. Aki-batnya, ekpresi masya-rakat yang terhimpun dalam partai politik itu tidak muncul karena tidak dilibatkan. Sehingga ne-gara memang keliha-tan autis dalam konteks ini," ucapnya.

Lantas, apakah masa-lah ini akan berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih? Saiman mengatakan, kalau mau diukur, pada tingkat kualitas tidak begitu berkualitas. Kalau diukur kuantitas, bisa dilihat dari jumlah pemilih yang datang ke TPS nantinya. Jangan-jangan kualitatifnya ini dimobilisasi oleh tokoh-tokoh yang ada.

"Saya kira berpengaruh. Tapi faktanya pemilih-pemilih parodial sangat dipengaruhi seberapa besar tokoh dalam kelompok-kelom-pok tertentu memobilisasi mereka. Disatu sisi kita ingin melihat Pilkada  yang berkualitas, tapi disisi lain budaya politik kita tidak  memungkinkan sampai dititik itu. Nah, Apakah kualitas pilkada itu atas dasar mobilisasi atau karena kesadaran masyarakat, kita lihat saja nanti," tukasnya.

Dikatakannya, pemilih tidak akan merespon apa yang dibuat pemerintah. Yang mereka respon adalah ajakan dari calon atau tim sukses. “Jadi, bukan pada persoalan ornamen, baliho, atau tata caranya, akan tetapi substansinya adalah bagaimana proses politik yang terbangun  antara pemilih dengan calon itu untuk kepentingan daerah," katanya  lagi.

Pemilukada itu ruhnya bukan administratif akan tetapi ruhnya  politik. Artinya, relasi antar pemilih dengan calon itu yang paling penting. Tak heran kalau dalam setiap pilkada hanya dikelola  sedemikian rupa oleh partai-partai tertentu. Sistim yang diterapkan saat ini yang berubah itu hanya waktu saja.  Secara substansial, tidak ada yang berubah. Partisipasi masyarakat kebanyakan dimobilisasi bukan atas dasar kesadaran. 

"Saya kira sistim saat ini tidak akan signifikan mempengaruhi partisipasi pemilih. Masyarakat tidak akan merespon ornamen-ornamen yang dibuat pemerintah. Ini akan terlihat di daerah yang  masya-rakatnya parodial," tutup Saiman.

Yah, Pilkada adalah ajang untuk mencari pemimpin rakyat di daerah, bukan tempat mencari pekerjaan orang-orang yang hanya memiliki nafsu politik. Jika benar-benar ingin menjadi pemimpin rakyat, komitmen itu harus ditunjukkan.

Wartawan : M Yasir

Tulis Komentar
comments powered by Disqus