Harris - Zardewan, Bisa Saling Melengkapi

Senin,15 Juni 2015 | 09:11:00
Harris - Zardewan, Bisa Saling Melengkapi
Ket Foto : Pengamat Politik Riau, Saiman Pakhpahan
PEKANBARU (Pelalawannews.com) – Dilihat dari potensi dan kapasitas masing-masing, pasangan Harris-Zardewan dinilai ideal. Harris mewakili kalangan politisi, Zardewan dari birokrat. Keduanya bisa saling melengkapi.
Meski tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pemilukada) di Kabupaten Pelalawan belum dimulai, namun banyak kalangan yang intens mendiskusikan soal pencalonan sejumlah figur yang dianggap layak dan mampu memimpin Pelalawan 5 tahun kedepan.
 Muncul friksi-friksi yang menyebutkan kalau Zukri akan berpasangan dengan Thamrin, Harris dengan Zardewan, atau Anas Badrun dengan Kasyadi. Tapi, semua itu baru sebatas isu yang kebenarannya belum pasti.
Menarik memang menghitung peluang para balon yang akan bertarung nanti. Ada yang bilang, jika bupati incumbent HM Harris berpasangan dengan Zardewan (mantan Sekdakab Pelalawan), ini akan menjadi ‘duet’ maut yang sulit dikalahkan. Bahkan ada yang sebut ini merupakan pasangan yang ideal.
Inilah yang disampaikan pengamat politik Riau Saiman Pakpahan, akhir pekan lalu. Menurutnya, popularitas HM Harris selaku bupati incumbent akan kian kuat jika memilih wakil dari kalangan birokrat. Apalagi nama Zardewan sudah sangat familiar di lingkungan birokrasi. Sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Sekdakab Pelalawan dan bahkan plt bupati, Zardewan jelas memiliki pengaruh yang lumayan bagus. 
Dari kacamata politiknya, Saiman mengatakan, apapun ceritanya yang namanya incumbent secara normatif lebih diuntungkan. Alasannya, pertama memang karena mereka berada pada puncak kekuasaan. Mereka punya uang, punya kekuasaan, punya aparatur yang senantiasa bisa digerakkan sesuai dengan keinginan. 
“Misalkan dalam memobilisasi birokrasi. Dia punya aparatur sampai tingkat desa. Dan ini sangat gampang bagi incumbent untuk menggerakkan. Incumbent juga mempunyai cukup banyak uang. Dan ketiga, dia juga memiliki networking yang bagus dengan para pegusaha. Pengusaha manapun akan welcome dengan orang yang sedang berkuasa. Keunggulan-keunggulan inilah yang tidak dimiliki calon lain,” beber Saiman kepada SP akhir pekan silam.
Memang, tidak semua incumbent bisa sukses untuk kembali terpilih. Kata Saiman, itu akibat dari tidak populer dan banyak ekspektasi yang ditunjukkan incumbent. Tapi, khusus di Pelalawan, dia berpandangan sudah cukup bagus dengan apa yang dilakukan incumbent selama ini. Soal apakah ini akan menjadi pilihan rakyat, dia tetap mengacu pada sejauhmana keberhasilan yang sudah dicapai Harris selaku bupati.
“Kalau dia sudah mengimplementasikan semua janji-janji politiknya, maka pemilih itu akan eksis memilih dia. Begitu juga sebaliknya, kalau banyak janji=janji politik yang belum terealisasi, maka masyarakat akan berusaha untuk mencari sosok lain. Menurut pengamatan saya. Harris punya kemampuan mengeksekusi gagasan-gagasan kampanyenya masa lalu. Jadi, saya kira besar kemungkinan haris akan muncul lagi sebagai penguasa di kabupaten pelalawan,” bebernya.
Saiman tidak sependapat kalau incumbent akan tumbang jika jumlah calon yang muncul itu sedikit. Katanya, sepanjang Harris tidak cacat dimata pemilih, head-to-head sekalipun akan dimenangkan incumbent. Sebab, incumbent itu lebih diuntungkan dengan 3 variabel (uang, birokrasi dan networking). 
Jadi, dengan siapapun incumbent berpasangan, dia tetap akan mempunyai lebih banyak peluang. Apalagi popularitas sosok rivalnya yang muncul masih di bawah atau selevel dengan incumbent. Dia hanya bisa dikalahkan oleh sosok yang memang kapasitasnya diatas. Kemudian incumbent memiliki cacat dalam beberapa hal, sehingga muncul sosok baru yang dianggap oleh pemilih mampu mengakomodasikan atau mengartikulasi kepentingan rakyat.
Dikatakannya, struktur pemilih yang parodial masih terjebak pada persoalan figur. Masyara kat akan memilih siapa yang dianggap lebih dikenal, dan siapa yang telah memberi kontribusi buat kemajuan daerah. 
“Mereka yang figurnya dikenal inilah yang memiliki kans akan dipilih oleh masyarakat. Peran wakil, saya kira juga akan memberi pengaruh, akan tetapi itu tidak terlalu signifikan. Karena pertarungan sesungguhnya pertarungan pada bupati,” ujarnya.
Dengan siapapun Harris berpasangan, asal tidak memiliki cacat politik, Saiman berpandangan tidak ada persoalan. Sepanjang Harris bisa merasionalisasi kursi partai, siapapun wakil yang diambil tidak menjadi masalah. Karena sosok Harris sudah dikenal luas.
“Posisi Zardewan dari kalangan birokrat, saya kira sangat tepat untuk mendongkrak kekuatan yang sudah dimiliki Harris. Zardewan jelas paham betul bagai mana mengorganiz pemerintahan. Maka secara administratif, ini jauh lebih rapi. Jadi, saya kira pasangan ini sangat pas, karena ada keseimbangan antara Harris dari kalangan politik dan Zardwewan dari birokrat,” ujar Saiman.
Pun begitu, ideal aatu tidaknya suatu pasangan tersebut tergantung darimana orang melihatnya. Jika dilihat dari sisi pemerintahan dan politik, maka mereka ini yang paling ideal. Pasangan ini bisa saling melengkapi. Tapi buat rival mereka, tentu penilaian akan berbeda.
“Saya kira akan adanya perimbangan kekuatan figur-figur yang akan maju di pesta demokrasidi Kabupaten Pelalawan  nanti. Dan paket politisi-birokrat atau sebaliknya itu cukup ideal, apalagi kalau kedua figur yang berpaket itu mempunyai popularitas tinggi,” pungkasnya
 
Wartawan : M Yasir
Tulis Komentar
comments powered by Disqus