“Pungli” Pokjar di Pelalawan Cerdas

Selasa,21 April 2015 | 09:04:00
“Pungli” Pokjar di Pelalawan Cerdas
Ket Foto : salah saeorang mahasiswa UT pokjar Pelalawan, Syahbanides yang tidak dapat mengikuti wisuda

PANGKALAN KERINCI (Pelalawannews.com)– Untuk meningkatkan kualitas pendidikan peserta didik, harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pengajar, sehingga apa yang disampaikan di kelas benar benar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk mencapai demikian itu tentu para tenaga pengajar di tuntut untuk melanjutkan pendidikannya bagi guru yang selama ini belum memiliki ijazah strata satu.

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan guru harus memiliki kualifikasi minimum serta harus mengikuti sertifikasi untuk meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Kemudian dijelaskan lagi pada Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan, Kualifikasi akademik dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Artinya setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional.

Kabupaten Pelalawan yang masih menata pendidikannya menuju masa depan generasi muda yang lebih baik, berbagai langkah dan program di fokuskan untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri pemakaran Kabupaten Kampar ini.

Melalui Program Pelalawan Cerdas,Pemerintah Kabupaten Pelalawan merespon cepat kebijakan pusat untuk meng up grade kompetensi para juru didik yang bertuga di seluruh wilayah Kabupaten Pelalawan. Bea siswa untuk pendidikan S1 para guru digelontorkan dari APBD Pelalawan.

Kebijakan Pemerintah daerah ini disambut positif oleh para guru guru yang belum mengantongi ijazah S1. Apaa lagi kata gratis semakin memotivasi mereka untuk meningkatkan pengetahuan, kompetensi dan kualifikasi pendidikan mereka.

“Karena guru diwajibkan berpendidikan S1, maka kami harus melanjutkan pendidikan kami lagi di perguruan tinggi, apa lagi ada dukungan dari pemkab melalui Dinas Pendidikan yang memfasilitasi kami melanjutkan studi,” ujar salah seorang mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Kelompok Belajar (Pokjar) Pelalawan, Syahbanides kepada Pelalawannews.com

Dengan harapan menjadi seorang pengajar yang profesional, dengan penuh semangat, Syahbanides dengan tekun mengikuti bangku kuliah di UT, hari berlalu, bulan berganti dan tahun demi tahun dilalui dengan rutinitas ganda, sebagai seorang pendidik di sekolah, dan sebagai seorang mahasiswa di bangku kuliah.

Tak patah asa, perjuangan Syahban sampai pula pada dipunghujung harapan, pendidikan nya di UT memasuki masa masa akhir, ujian penentuan kelulusan dilewatinya,  hasil itu meneguhkah  keyakinannya menjadi seorang yang berhak menuliskan sarjana pendidikan di belakang namanya.

“Bertahun tahun menjalani aktifitas sebagai guru dan mahasiswa, akhirnya saya dan beberapa kawan se profesi yang kuliah di UT akhir dinyatakan lulus, dan tinggal menunggu jadwal untuk yudium dan wisuda saja,” ujarnya berbinar

Sebagai seorang guru honorer di salah satu sekolah dasar di Pangkalan Kerinci ini, penghasilan Syahbanides mungkin hanya cukup untuk untuk mkan saja, mana kala dihadpkan dengan kata uang dan pembayaran, jantungnya berdegup karena hal ini dikarenakan ketidakmampuannya menyanggupi permintaan tersebut.

Hal yang paling ditakutinya itu akhirnya datang juga, pengumuman nama nama mahasiswa UT Pokjar Pelalawan yang bakal di wisuda di hubungi oleh salah seorang pengelola UT Pokjar Pelalawan di Dinas Pendidikan, Asniwarman, yang menjelaskan persyaratan untuk mengikuti wisuda, diantaranya transkrip nilai, ijazah terakhir, pas photo dan sebagainya.

“Namun yang menyesakkan itu ada angka satu juta setengah juta rupiah, tanpa ada rincian untuk apa uang sebanyak itu dibayarkan,” jelasnya seraya mengatakan bahwa pada saat itu, dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu, dengan penuh kepasrahan dirinya  menyatakan mundur dari daftar wisuda “Karena tak punya uang saya mengatakan kepada pak asniwarman, biarlah kawan kawan saya saja yang duluan wisuda karena saya tak punya uang, seingat saya waktu itu tepat tanggal 4 april kemarin,” lanjutnya

Sepulang dari rumah Asniwarman, dirinya pun tak henti hentinya melakukan berbagi usaha dan upaya untuk bisa menyelesaikan pembayaran syarat wisuda itu, berkat kegigihannya, uang  sebanyak Rp. 1,5 itu akhirnya di dapatnya, pada hari Kamis tanggal 9 April, Syahbanides pun datang ke kampus UT di Pekanbaru, menanyakan apakah dirinya masih bisa mendaftar wisuda.

“Karena saya merasa sudah terlambat mendaftar di pengelola UT Pokjar Pelalawan, akhirnya saya datang sendiri ke kampus di Pekanbaru, rupanya saya masih bisa mendaftar,”terangnya

Belum tertutupnya pintu bagi nya untuk menjadi salah satu peserta yudium dan wisuda, dirinya mendapati kenyataan bahwa pihak kampus tidak membebankan biaya kepada peserta wisuda.

“Menurut pihak kampus, tidak ada yang harus dibayar, semuanya gratis, tapi kenapa harus menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh kami di Pelalawan,” tuturnya dengan mengatakan bahwa 59 rekan lainnya sudah membayarkan biaya wisuda 1.5 juta rupiah itu kepada Asniwarman.

Usai pendaftaran langsung di kampus UT yang dilakukan oleh Syahbanides menjadi pemicu konflik antaranya dirinya dengan Asniwarman yang mewakili pengelola pokjar Pelalawan, sikapnya yang melangkahi pokjar dianggap pembangkangan orang orang yang merasa kepada nya selama ini.

 “Ketika mereka tahu saya sudah mendaftar, bahan bahan saya diambil oleh pak Asniwarman di kampus, sehingga nama saya tidak tercantum di daftar peserta wisuda,” ujarnya

Untuk memperjuangkan haknya itu, dirinya mendatangi kantor dimana Asniwarman berdinas, untuk mempertanyakan ihwal pengambilan bahan persyaratan wisuda dari kampus UT Pekanbaru, kenyataan pahit harus diterimanya, pegawai Disdik itu menyambutnya dengan emosi   yang memuncak.

“Ketika saya temui, pak Asniwarman jadi emosi, beliau mengatakan ke saya bahwa saya tidak menghargainya sebagai pengelola pokjar,” katanya dengan raut sedih

Sebagai orang kecil, dan hanyalah guru honorer biasa, Syahbanides hanya bisa berharap, pihak Dinas Pendidikan mau membantunya menyelesaikan masalah ini agar bisa bergabung dengan kawan kawan nya yang lain di wisuda nanti.

“Kejadian tak mengenakkan seperti ini, mudah mudahan saya yang terakhir, kawan kawan yang masih kuliah sekarang tidak merasa seperti yang saya rasakan,harapnya

Apon Hadiwijaya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus