Yang Terbuang di Negeri Sendiri

Jumat,10 Maret 2017 | 10:22:00
Yang Terbuang di Negeri Sendiri
Ket Foto : ilustrasi

PEREMPUAN 30 tahunan itu selalu setia dengan mimpi-mimpinya. Dia begitu erat menggenggam mimpinya dengan kepercayaan penuh bahwa suatu saat mimpi-mimpinya itu akan terwujud. Berbekal semangat yang terus menyala, meski harus berkali-kali jatuh, wanita cantik nan enerjik itu perlahan mulai meraih mimpinya.

Ketika sekolah dasar dulu, setiap kali guru menanyakan cita-citanya, selalu menjawab dengan bangga dan semangat ingin menjadi pegawai negeri. Dan cita-cita itu tidak pernah berubah.

Seiring perjalanan waktu, Pelalawan --tanah kelahirannya- yang dulu hanya sebuah kecamatan dari kabupaten Induk, mekar menjadi sebuah kabupaten baru berdasarkan UU No 22 tahun 1999.

Dirinya ingat betul ketika itu masih mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi. Dimana Kabupaten Pelalawan sedang tumbuh dibawah kepemimpinan HT Azmun Jaafar. Negeri ini ibarat oasis di gurun tandus, dan banyak musafir mengharapkan dari gersangnya padang pasir itu," .

Mimpi yang disematkan sejak masih sekolah dasar itu kian terbuka lebar. Tekadnya, jika satu saat tenaga dan fikirannya dibutuhkan untuk
bersama-sama memajukan negeri pelalawan, maka ia siap untuk mengabdikan diri.

Impian tetap impian, cita cita harus dicapai, begitulah doktrin orang tua yang selalu tertanam dipikirannya. "Jika engkau ingin jadi orang nak, berusahalah sekuat tenaga. Jika usaha engkau itu tulus, insha Allah akan tersampaikan". Begitulah amanat yang diberikan orangtuanya.

Benar saja, usai menyelesaikan kuliah selang beberapa tahun ada kabar akan dibuka penerimaan pegawai negeri sipil secara besar-besaran. Tak  ingin menyia-nyiakan kesempatan, dirinya ikut seleksi. Apalagi Bupati terpilih saat itu HT Azmun Jaafar memanggil putra putri asli daerah yang jauh di negeri orang untuk palang, dan mengabdi membngun negeri.

Hasratnya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tersampaikan pada tahun 2000 lalu. Dimana ia menjadi PNS di Pemerintahan Kabupaten Pelalawan diawal pemekaran. Dia pun bertekad untuk mengabdi dengan satu misi memajukan Pelalawan.

Berjuta rasa besatu dalam hati ini ketika dinyatakan lulus. Sujud syukur berulang-ulang ia lakukan. Mungkin ini jalan untuk bisa berbuat negeri sendiri dan berguna bagi negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu dan peluang, prestasi demi prestasi ia rengkuh sebagai abdi negara. Pertama menjadi pegawai ia ditugaskan di Bagian Hukum, hingga akhirnya ia merengkuh eselon III. Walau akhirnya itu semua tanpa arti.

Baginya menjalani profesi sebagai pegawai negeri sipil dengan niat tulus dan ikhlas. Tahun demi tahun ia lalui sebagai PNS di 'Negeri Seiya Sekata' dengan tetap berpegang teguh pada ikhtiar awal bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus lari dari kaidah sebagai abdi negara. Proses demi proses, jenjang karier dalam struktur sistem
pemrintahan ia jalani. Ia yakin, yang termahal dalam hidup adalah proses kehidupan itu sendiri.

Berpindah dari satu instansi ke instansi lain ia lewati dengan senang hati. Akhirnya ketabahan dan ketulusan dirinya berbuah manis, dimana pada tahun 2013 lalu dirinya mendapatkan Eselon 3. Bangga dan sangat bangga dengan prestasi yang direngkuhnya. Apalagi semua itu ia dapatkan dengan proses yang sangat panjang dan ketentuan yang ada tanpa ada unsur kedekatan dengan penguasa atau lobi sana lobi sini.

Namun, pengabdiannya selama 17 tahun seperti terabaikan. Beberapa pekan yang lalu, Mutasi yang dilakukan Pemkab Pelalawan membuat dirinya tercampakan. Ia tersisihkan kepentingan politis dari orang-orang yang dinilai patut dan pantas untuk mengisi jabatan di pemerintahan. Ternyata angin politik yang berhembus hebat itu tidak hanya menerpa orang yang sesungguhnya terjun langsung dalam politik, tapi juga menghantam orang-orang yang tidak tahu bahkan tidak paham akan dinamika panggung politik.

Wanita ini tertunduk lesu dengan segudang pertanyaan yang memenuhi benaknya. "Apa salah dan dosa saya? Jika saya dipinggirkan karena isu politik, saya merasa dizolimi. Namun, jika saya disisihkan karena dinilai tidak bisa kompeten, saya juga mempertanyakan. Kini saya merasa terpinggirkan di negeri sendiri," katanya lirih.

Ya, perempuan ini adalah potret citra cantik wanita Indonesia yang mandiri. Dia juga citra cantik perempuan muda Indonesia yang berani bermimpi dan berani untuk mewujudkan semua mimpi-mimpinya untuk membangun negerinya. Dia mempunyai mimpi besar untuk Kabupaten Pelalawan, yaitu menjadikan negeri ini maju. Haruskah dibuang tersebab kepentingan politik?***

Tulis Komentar
comments powered by Disqus